Skip to main content

Perlukah Wisuda di Sekolah?

 


Perlukah Wisuda di Sekolah?

 

Adlin Dafi Ardyansyah1

Madrasah Aliyah Salfiyah Syafi’iyah Program Keagamaan dan Kebahasaan

1adlindafi2506@gmail.com

 

 

Abstrak

 

Wisuda menjadi momen yang paling dinantikan oleh para mahasiswa atau siswa sekolah dasar hingga menengah keatas. Kelulusan seorang siswa menjadi kebahagiaan dan penuh kenangan yang pernah dilalui oleh semua siswa. Terutama masa putih abu-abu yang kerap menjadi sebuah kisah yang selalu dikenang hingga dewasa nanti. Dimulai dari kisah cinta dan persahabatan yang terkenang. Selain itu, wisuda menjadi tanda bahwa seorang siswa atau mahasiswa siap untuk melanjutkan jenjang selanjutnya. Untuk mengenang kisah tersebut maka para siswa/guru berinisiatif merayakan kelulusan dengan mengadakan serangkaian acara wisuda.

 

 

1         Pendahuluan

Wisuda menjadi momen kelulusan yang identik dengan jenjang perkuliahan, yang mana menjadi prosesi pengukuhan resmi dari pencapaian akademik dan kompetensi yang telah dicapai oleh mahasiswa. Pemberian gelar dalam upacara wisuda mencerminkan kemampuan dan pengetahuan spesifik yang telah diperoleh. Tidak hanya di jenjang perguruan tinggi saja, wisuda juga sudah menjadi bagian acara kelulusan pada jenjang di bawahnya, seperti sekolah dasar hingga menengah ke atas.

Kelulusan seorang siswa atau mahasiswa sangatlah menjadi momen yang haru dan terkenang. Karena momen itu menandakan bahwa seorang siswa/mahasiswa sudah pantas untuk melanjuti jenjang selanjutnya. Biasanya kelulusan ini dirayakan dengan sebuah acara atau pesta yang dihadiri oleh para siswa, orang tua, dan guru. Namun, dalam beberapa waktu belakangan ini wisuda menjadi perbincangan hangat karena mengundang kontraversi dari berbagai pihak. Untuk mengetahui lebih dalam akan permasalahan tersebut, alangkah baiknya kita Simak penjelasan di bawah ini guna pembaca dapat berpendapat sesuai dengan hati nurani.

 

 

2         Pembahasan

2.1         Tujuan Wisuda

Wisuda pada umumnya memiliki tujuan yang sama yaitu merayakan kelulusan dengan sebaik-baiknya agar menjadi momen yang dapat terkenang oleh para wisudawan. Tetapi tujuan utama dari perayaan wisuda ini adalah untuk mengakui dan merayakan pencapaia akademik wisudawan ketika menempuh studi di jenjang tersebut. Selain itu, perayaan ini juga menjadi cara untuk menghargai prestasi akademik wisudawan dan juga menandakan transisi perpindahan dari jenjang pendidikan satu ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Selain dari faktor akademik, ternyata wisuda juga menjadi salah satu untuk membangun rasa kebersamaan dengan keluarga, teman, dan guru/dosen. Ketika mendekati kelulusan, biasanya kelas yang awalnya tidak akur dan sulit untuk kerja sama maka Ketika akan kelulusan seketika para siswa di kelas tersebut menjadi akur dan saling pengertian. Peristiwa tersebut bukan suatu yang aneh tetapi menjadi pembelajaran bahwa orang yang telah menemani kita selama beberapa tahun pada akhirnya akan berpisah juga. Maka dari itu kita berusaha untuk membuat kenangan yang baik pada masa-masa sebelum kelulusan.

Tak hanya disitu wisuda juga  menjadi ajang untuk menunjukkan kualitas dan prestasi pendidikan yang terdapat. Biasanya pada saat wisuda dibacakan pencapain prestasi yang didapat oleh suatu instansi pendidikan tersebut. Semakin banyak prestasi yang didapat oleh lembaga pendidikan tersebut maka dinilai semakin tinggi kualitas pendidikannya.

2.2         Dampak Positif

Melihat berbagai tujuan diatas, wisuda memiliki beberapa dampak positif bagi siswa dan lembaga pendidikan. Diantaranya menjadi ajang penunjukan kualitas pendidikan di suatu Lembaga pendidikan tersebut. dan juga membangun jiwa solidaritas dengan teman.

Bahkan wisuda juga dapat mengasah kreativitas para siswa, karena sebagian Lembaga pendidikan yang menyiapkan acara pelepasan atau kelulusan adalah siswanya sendiri dengan menampilkan berbagai penampilan kreatif yang dapat dikenang setelah lulus.

Dampak psikologi untuk siswa adalah meningkatnya rasa percaya diri dan semangat untuk meraih tujuan yang lebih tinggi. Karena merayakan pencapaian pribadi dan menunjukan kepada dunia bahwa seorang siswa berhasil menyelesaikan pendidikan. Selain itu, mempererat hubungan sosial dengan teman. Bertemu teman dan keluarga juga dapat meningkatkan skill berkomunikasi yang berguna untuk bersosial masyarakat.

Dapat menginspirasi adik kelasnya agar berkembang dan menciptakan prestasi yang lebih unggul dari kakak kelasnya. Serta menjadi motivasi dan semangat bagi maasyarakat sekolah pada umumnya.

2.3         Dampak Negatif

Dibalik tujuan dan dampak positif tersebut, ternyata wisuda juga memiliki dampak negatif. wisuda di tingkat sekolah dasar dan menengah tidak memiliki esensi yang sama. Siswa di tingkat ini masih dalam proses pembelajaran dasar, belum mencapai tingkat spesialisasi atau kompetensi profesional yang signifikan. Wisuda pada jenjang ini lebih bersifat seremonial tanpa pengakuan formal atas kompetensi yang spesifik.

Penyelenggaraan wisuda kelulusan memerlukan biaya yang tidak sedikit dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah dan seringkali membebani ekonomi bahkan menyebabkan utang dan pinjaman online. Biaya yang mahal tersebut biasanya digunakan untuk menyewa gedung, pakaian, dan konsumsi.

Persiapan foto dan proses wisuda anak menjadi sumber munculnya stres bagi anak-anak, terutama jika fokus berlebihan pada penampilan dan juga perbandingan strata sosial di medsos. Bahkan perayaan yang mewah mendorong untuk memiliki gaya hidup hedonisme dan bisa mengabaikan nila-nilai pendidikan yang lebih penting.

Perayaan wisuda yang berlebihan dapat mengakibatkan beban mental pada anak dan orang tua, terutama jika mereka tidak bisa memenuhi standar yang diterapkan.

 

 

3         Kesimpulan

Dilihat dari dampak positif dan negatif dapat ditarik kesimpulan, bahwa perayaan kelulusan menjadi momen penting untuk mengenang prestasi dan perjuangan selama beberapa tahun di suatu jenjang pendidikan terssebut. Namun, perayaan itu justru dapat menjadi bumerang bagi para siswa, orang tua, maupun instansi pendidikan tersebut. Bahkan perayaan tersebut menjadi sumber permasalahan ekonomi dan menjadi beban mental. Alangkah baiknya jika merayakan kelulusan dengan sederhana tetapi menjadi sebuah kenangan baik, bukan menjadi kenangan buruk. Wisuda yang tetap memperhatikan nilai-nilai pendidikan bukan sebagai ajang adu gengsi.

Perayaan wisuda sekolah perlu dilakukan apabila tidak ada yang merasakan keberatan dan juga dirayakan dengan tidak terlalu mewah tapi dapat menjadi momen terakhir yang bahagia dan terkenang baik.

Comments

Popular posts from this blog

Terkadang Perbedaan Menjadi Masalah Besar Dalam Hubungan

Menelaah makna lagu Mangu Oleh; Adlin Dafi Ardyansyah   Lagu merupakan suatu hal yang menjadi teman serta hiburan bagi semua kalangan umur manusia. Sudah seperti lauk, tidak lengkap rasanya tanpa ada musik yang terputar menemani kegiatan sehari-hari bahkan setiap makan, tidur, dan beberes rumah harus ada lagu yang terputar. Apalagi di media sosial sering kali kita melihat video dengan musik yang indah mengiringi membuat kita betah melihat video tersebut. Lagu juga bisa memainkan emosi seseorang yang dapat memahami betul isi dari lagu tersebut. Setiap tahun atau bahkan bulan pasti ada lagu yang sedang populer di media sosial, nahh… kali ini kita akan membahas tuntas makna lagu yang sedang hits ini. Yaitu, lagu berjudul mangu yang dinyanyikan oleh Charita Utamy dan Fourtwnty. Sebelum kita masuk dalam pembahasan makna lagu ini, alangkah baiknya kita mengenal siapa pencipta lagu ini? Mangu ini diciptakan oleh Ari Lesmana yang menjadi vokalis Fourtwnty. Fourtwnty adalah grup mus...

Paradoks Frasa: Semakin Banyak Belajar Semakin Bodoh by Gemini

  Paradoks Frasa: Semakin Banyak Belajar Semakin Bodoh (Studi Kasus: Individu)   Adlin Dafi Ardyansyah 1. Madrasah Aliyah Khusus Keagamaan MASS Tebuireng 1. adlindafi2506@gmail.com     Abstrak   Paradoks merupakan suatu hal yang sudah tak biasa kita dengar dikalangan para pelajar, salah satunya adalah paradoks “Semakin Banyak Belajar Senakin Bodoh” apabila kita mendengarnya secara mentah-mentah tentu saja kontradiktif. Pernyataan itu harus dicerna lebih dalam, Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi fenomena di balik paradoks tersebut, dengan memfokuskan pada peran metakognisi dan manifestasi efek Dunning-Kruger. Kita mengemukakan hipotesis bahwa persepsi seputar “kebodohan” selalu menggiring kita ke pengertian yang negative. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah gabungan dari survei dan wawacara terhadap para siswa dan guru yang paham di bidang tersebut. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa siswa yang memiliki k...